Perkataan Syafaqah  ( شفقة ) berasal daripada perkataan Arab yang merangkumi makna berikut: affectionateness; commiseration ; compassion ; deep sympathy ; feeling ; kindliness ; kindness ; mercy ; pity ; tenderness.

Dalam konteks persatuan ini, perkataan Syafaqah ini merujuk sikap kecaknaan yang lahir daripada sifat kasih-sayang dan rahmat kepada seluruh insan tanpa mengira kaum, bahasa dan anutan kepercayaan. Sesungguhnya, setiap insan itu adalah ahli kepada keluarga besar kemanusiaan.

Syafaqah berpegang dengan pesanan keramat ini:

“Sebaik-baik insan, ialah yang paling bermanfaat kepada manusia lain dalam kalangan mereka.”

(Nabi Muhammad s.a.w.; riwayat at-Tobarani, sahih)

 

Bersandarkan kepada pegangan ini, Syafaqah mengambil pula semangat, ruh dan intipati riwayat di bawah ini dalam merangka dan melaksanakan aktiviti-aktivitinya:

 

Nabi Muhammad s.a.w. menceritakan, bahawa Allah Tabaaraka wa Taala telah berfirman,

”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di hari kiamat,” Wahai anak Adam, dulu Aku sakit tetapi engkau tidak menjenguk-Ku.” Manusia bertanya,” Tuhanku, bagaimana kami dapat menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?”

Tuhan menjawab,” Tidak tahukah engkau bahwa si fulan sakit, tetapi engkau tidak menjenguknya? Tidak tahukah engkau jika engkau menjenguknya, engkau pasti dapati Aku ada di sisinya.”

Tuhan berfirman lagi,” Wahai anak Adam, dulu Aku minta makan kepada engkau tetapi engkau tidak memberi Aku makan.”

Manusia bertanya,” Tuhanku, bagaimanakah aku dapat memberi-Mu makan sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?”

Tuhan menjawab,” Tidak tahukah engkau bahwa hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu dan engkau tidak memberinya makan? Tidak tahukah engkau bahwa jika engkau memberinya makan, engkau pasti dapati ganjarannya ada di sisi-Ku.”

Tuhan befirman,” Wahai anak Adam, dulu Aku minta minum kepadamu dan engkau tidak memberi-Ku minum.”

Manusia bertanya,” Tuhanku, bagaimanakah aku dapat memberi-Mu minum sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?”

Tuhan berfirman,” Hamba-Ku fulan meminta minum padamu dan engkau tidak memberinya minum. Apakah engkau tidak tahu bahwa seandainya engkau berikan ia minum engkau pasti dapati ganjarannya ada di sisi-Ku.” ( Hadis riwayat Muslim)